::Berbagi Cerita, Berbagi Ceria::

..Semua bisa bahagia, kalau mau saling berbagi..

Tempe Bacem August 14, 2007

Filed under: Uncategorized — ayutsoe @ 9:59 am
Sumber: Milis SMA1PKB
Sejak naik gaji, Susi menikmati kenaikan gajinya dengan mengubah gaya 
hidupnya. Dulu, dia selalu membawa makanan dari rumahnya.
Kadang-kadang nasi dengan telor dadar, atau nasi dengan sisa lauk 
kemarin yang sudah dihangatkan. Susi paling suka tempe bacem, yang 
warnanya sampai gelap dan rasanya semakin enak. Nasi dan tempe bacem 
memang makanan favoritnya. 
 
Sudah dua bulan ini dia naik gaji karena jabatannya lebih tinggi. 
Tentu saja tugas dan tanggung jawabnya semakin tinggi. Sekarang dia 
merasa malu kalau membawa makanan dari rumah. Kini setiap siang dia 
makan di luar. 
Dulu, banyak teman yang sering titip uang supaya dibawakan tempe 
bacem kesukaannya yang ternyata disukai juga oleh mereka. Sekarang 
mereka sering mengeluh karena Susi tidak mau lagi membawakan tempe 
bacem kesukaan mereka. "Ah, malas bawa makanan dari rumah lagi," 
katanya setiap kali mereka menanyakan tempe bacemnya. 
 
Susi menikmati gaya hidupnya yang berubah. Sekarang dia bisa makan 
ayam goreng keremes lengkap dengan es campur hampir tiap hari.
Kadang-kadang nasi rames lengkap dengan sambal goreng ati, perkedel 
dan daging rendang serta telor dadar pedas serta jus buah. Enak juga 
sih. Rasanya mewah. Kini Susi tidak pernah lagi makan bersama teman-
temanya di ruang makan. 
Dia selalu memilih makan siang di luar. Kalau sedang sangat sibuk, 
baru dia minta dibelikan makanan dan akan makan di ruangannya sendiri.
 
Tanpa disangka tiga hari yang lalu terjadi sesuatu yang membuat Susi 
terheran-heran. Pak Jono, siden direktur, memanggil Susi untuk 
meminta laporan mingguan yang belum diterima. Kebetulan waktu itu 
sudah hampir jam makan siang. Susi datang ke ruangan beliau sambil 
membawa laporan yang diminta. Susi juga menjelaskan bahwa dia sudah 
menyerahkan laporan tersebut ke pak Jono. Pak Jono juga mengakui hal 
itu, tapi laporan itu terselip entah di mana, jadi pak Jono minta 
lagi. 
 
Setelah berdiskusi sebentar, Pak Jono mengeluarkan kotak plastik 
berisi makanan. Beliau bertanya:"Susi sudah makan." "Belum, pak," 
jawab Susi. "Ya sudah, Susi makan dulu saja. Saya juga sudah lapar 
nih. Nanti kita lanjutkan lagi setelah makan siang." Susi kemudian 
minta diri untuk keluar makan siang. Sambil mempersilahkan Susi 
keluar, pak Jono membuka kotak makan siangnya. Tanpa sengaja, Susi 
melihat isi kotak itu. Isinya nasi, orak-arik telor campur buncis dan 
tempe bacem. Hanya itu. 
 
Tanpa sadar Susi bertanya:"Pak, kok Bapak bawa makanan dari rumah 
sih?"
"Memangnya kenapa," tanya pak Jono. "Ya... malu kan Pak? Masa
Presiden Direktur bawa makanan dari rumah," begitu jawab Susi. Pak 
Jono hanya tersenyum ramah dan menjawab:"Mengapa harus malu? Makanan 
ini penuh gizi, harga lebih murah, yang masak isteri saya, dan saya 
tidak perlu repot cari makanan lagi. Lagipula ini makanan kesukaan 
saya. Mau coba." Sambil tersenyum malu, Susi mengucapkan terima 
kasih. 
 
Kejadian itu membuat Susi terheran. Kok Pak Jono tidak malu membawa 
makanan dari rumah ya? Tapi, memang setelah dipikir, mengapa harus 
malu? Kan banyak keuntungannya? Lebih murah, rasanya lebih sesuai 
selera sendiri, tidak perlu berpanas-panas keluar kantor mencari 
makanan, dan bisa memilih makanan kesukaan. Tiba-tiba, dia kangen 
lagi dengan tempe bacem buatan ibunya. Tempe bacem kesukaannya. Tempe 
bacem yang juga disukai teman-temannya. 
 
Dua hari yang lalu, Susi membawa lagi makanan dari rumah. Dia membawa 
banyak tempe bacem dan membagikannya pada teman-temannya di ruang 
makan.
Semua temannya sangat senang bisa makan tempe bacem lagi. Rasanya 
sudah bertahun-tahun mereka tidak makan tempe bacem. Padahal baru dua 
bulan. Susi terharu melihatnya. 
 
Kini dia baru bisa mensyukuri keadaannya. Tidak perlu malu membawa 
makanan dari rumah. Pak Jono saja setiap hari selalu membawa makanan 
dari rumah. Padahal gaji dan kedudukan beliau kan lebih tinggi dari 
Susi? Untuk apa memboroskan uang gaji untuk makan mewah setiap hari? 
Sepertinya dia mengorbankan uangnya untuk membeli makanan yang lebih 
mahal hanya untuk kenikmatan sesaat dan untuk menuruti perasaan 
sombong akibat naik gaji dan naik jabatan.
 
Hari ini Susi membawa tempe bacem lagi karena kemarin banyak yang 
titip minta dibawakan. Malah mereka ingin membayar tempe bacem yang 
dibawanya. Susi tersenyum saja. Dia telah menemukan kenikmatan makan 
siangnya kembali. 
 
Tadi siang ketika rapat, Pak Jono bertanya pada Susi:"Makan di mana 
tadi."
Sambil tersenyum malu Susi menjawab:"Di ruang makan pak. Saya bawa 
dari rumah kok." Pak Jono berhenti sebentar memandangnya lalu 
tersenyum sambil mengangguk-anggukka n kepalanya. 
 
Senyum Pak Jono mengandung banyak arti. Sepertinya beliau tahu 
mengapa Susi berubah. Tapi Susi senang. Dia ingat: If you have more 
money, do not change your life ! You will be rich!
 

Berpikir Positif August 14, 2007

Filed under: Hikmah — ayutsoe @ 9:47 am

Sumber: Misua Gue..

Sebuah kisah nyata

Ada seorang ibu rumah tangga yang memiliki 4 anak laki-laki. Urusan
belanja, cucian, makan, kebersihan & kerapihan rumah dapat
ditanganinya dengan baik. Rumah tampak selalu rapih, bersih & teratur
dan suami serta anak-anaknya sangat menghargai pengabdiannya itu.

Cuma ada satu masalah, ibu yg pembersih ini sangat tidak suka kalau
karpet di rumahnya kotor. Ia bisa meledak dan marah berkepanjangan
hanya gara-gara melihat jejak sepatu di atas karpet, dan suasana tidak
enak akan berlangsung seharian. Padahal, dengan 4 anak laki-laki di
rumah, hal ini mudah sekali terjadi terjadi dan menyiksanya.

Atas saran keluarganya, ia pergi menemui seorang psikolog bernama
Virginia Satir, dan menceritakan masalahnya. Setelah mendengarkan
cerita sang ibu dengan penuh perhatian, Virginia Satir tersenyum &
berkata kepada sang ibu :

“Ibu harap tutup mata ibu dan bayangkan apa yang akan saya katakan”
Ibu itu kemudian menutup matanya.

“Bayangkan rumah ibu yang rapih dan karpet ibu yang bersih mengembang,
tak ternoda, tanpa kotoran, tanpa jejak sepatu, bagaimana perasaan
ibu?” Sambil tetap menutup mata, senyum ibu itu merekah, mukanya yg
murung berubah cerah. Ia tampak senang dengan bayangan yang dilihatnya.

Virginia Satir melanjutkan; “Itu artinya tidak ada seorangpun di rumah
ibu. Tak ada suami, tak ada anak-anak, tak terdengar gurau canda dan
tawa ceria mereka. Rumah ibu sepi dan kosong tanpa orang-orang yang
ibu kasihi”.

Seketika muka ibu itu berubah keruh, senyumnya langsung menghilang,
napasnya mengandung isak. Perasaannya terguncang. Pikirannya langsung
cemas membayangkan apa yang tengah terjadi pada suami dan anak-anaknya.

“Sekarang lihat kembali karpet itu, ibu melihat jejak sepatu & kotoran
disana, artinya suami dan anak-anak ibu ada di rumah, orang-orang yang
ibu cintai ada bersama ibu dan kehadiran mereka menghangatkan hati ibu”.

Ibu itu mulai tersenyum kembali, ia merasa nyaman dengan visualisasi tsb.

“Sekarang bukalah mata ibu” Ibu itu membuka matanya “Bagaimana, apakah
karpet kotor masih menjadi masalah buat ibu?”

Ibu itu tersenyum dan menggelengkan kepalanya. “Aku tahu maksud anda”
ujar sang ibu, “Jika kita melihat dengan sudut yang tepat, maka hal
yang tampak negatif dapat dilihat secara positif”.

Sejak saat itu, sang ibu tak pernah lagi mengeluh soal karpetnya yang
kotor, karena setiap melihat jejak sepatu disana, ia tahu, keluarga yg
dikasihinya ada di rumah.

Kisah di atas adalah kisah nyata. Virginia Satir adalah seorang
psikolog terkenal yang mengilhami Richard Binder & John Adler untuk
menciptakan NLP (Neurolinguistic Programming) . Dan teknik yang
dipakainya di atas disebut Reframing, yaitu bagaimana kita ‘membingkai
ulang’ sudut pandang kita sehingga sesuatu yg tadinya negatif dapat
menjadi positif, salah satu caranya dengan mengubah sudut pandangnya.

Berikut ini beberapa contoh pengubahan sudut pandang :

Saya BERSYUKUR;

Untuk istri yang mengatakan malam ini kita hanya makan mie instan,
karena itu artinya ia bersamaku bukan dengan orang lain


Untuk suami yang hanya duduk malas di sofa menonton TV, karena itu
artinya ia berada di rumah dan bukan di bar, kafe, atau di tempat mesum.


Untuk anak-anak yang ribut mengeluh tentang banyak hal, karena itu
artinya mereka di rumah dan tidak jadi anak jalanan.


Untuk Tagihan Pajak yang cukup besar, karena itu artinya saya
bekerja dan digaji tinggi


Untuk sampah dan kotoran bekas pesta yang harus saya bersihkan,
karena itu artinya keluarga kami dikelilingi banyak teman.


Untuk pakaian yang mulai kesempitan, karena itu artinya saya cukup
makan.


Untuk rasa lelah, capai dan penat di penghujung hari, karena itu
artinya saya masih mampu bekerja keras.


Untuk semua kritik yang saya dengar tentang pemerintah, karena itu
artinya masih ada kebebasan berpendapat.


Untuk bunyi alarm keras jam 5 pagi yg membangunkan saya, karena itu
artinya saya masih bisa terbangun, masih hidup.


Untuk semua masalah dan penderitaan hidup yang saya alami, karena
itu artinya saya memiliki pengharapan hidup kekal yang penuh sukacita
di surga.

 

 

Belajar Menjadi Zahid August 14, 2007

Filed under: Hikmah — ayutsoe @ 9:41 am

Beberapa waktu lalu, seorang teman berkisah tentang kejadian yang teramat menyentuh nuraninya. Suatu ketika muslimah berjilbab itu pulang ke rumah kost dari rumah kost adiknya di Depok. Seperti biasa, di jalan yang dilaluinya menuju rumah kost kami selalu ada seorang kakek tuna netra yang duduk di tepi trotoar yang sempit. Hanya saja, jika biasanya si kakek duduk di dingklik dengan mangkuk plastik yang ditadahkannya, namun hari itu dia merangkak-rangkak dengan tangan meraba-raba trotoar yang penuh dengan pasir.

Teman saya yang sifatnya selalu mau tahu itu, ikut jongkok dan lantas bertanya, “Kenapa Kek?”

“Nyari duit saya Neng, tadi mangkuknya jatuh, duit-nya jadi berceceran”. Wajah Kakek tua itu tampak sedih.

Serta merta teman saya membantu memungut koin-koin yang berserakan. Beberapa koin sudah terkubur pasir dan sebagian lagi terpental jauh dari tempat kakek itu duduk. Maklum saja, dengan penglihatan yang gelap tentu saja si kakek tadi mencari koin-koinnya asal dan acak. Dengan senang hati teman saya tadi mencari koin-koin yang tersembunyi di antara butir-butir pasir tersebut. Dan seperti biasa pula, jika hatinya mulai tersentuh oleh sesuatu yang membuatnya haru, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Cepat-cepat ia menyerahkan koin-koin yang didapatkannya kepada si kakek. Sudah tak tahan lagi ingin menangis, katanya. Sambil menyelipkan selembar ribuan, teman saya pergi meninggalkan si kakek.

Begitu sampai di kamar kost, air mata sudah menetes satu persatu di pipinya. Saya, teman sekamarnya dan dua orang teman kami yang lain kebetulan sedang berada di kamar tentu saja bingung melihat mukanya yang sembab dan berurai air mata itu.

“Kenapa Ma, kok datang-datang nangis?” tanyaku bingung.

Hanya sesenggukan yang kudengar dari bibirnya.

“Duh, ada masalah kali ama dik Citra” timpal temanku yang lain dengan wajah yang begitu kuatir. “Dik Citra sakit, Ma?” tambahnya.

Kali ini temanku mulai tenang. Kemudian bercerita tentang kejadian yang baru dialaminya. Hhh…kami bertiga menghela nafas lega, kirain ada musibah apa.

“Maaf udah bikin panik. Tapi aku bener-bener sedih banget. Aku malu sama kakek itu. Dia begitu menghargai miliknya, walau beberapa koin. Kalian kan ga liat mukanya gimana…” ucapnya.

“Iya ga papa kok. Kita ngerti kok, kamu kan gampang trenyuh gitu..hehe” aku mencoba menghibur.

“Aku malu, semalam aku abis makan di Pizza Hut sama dik Citra. Abis enam puluh ribuan sekali makan. Dikit pula. Coba bandingkan dengan kakek itu, aku kok hura-hura banget ya. Dia susah payah berusaha mencari koin koin ratusannya yang jatuh, aku buang-buang duit cuma buat makan begitu doang…”

Kami terdiam. Mencoba meresapi kalimat terakhirnya. Bukan dia saja yang sering begitu. Aku juga. Temanku yang lain juga. Kamu juga pernah kan? Semua juga sering kan? Kita seringkali melakukan hal-hal yang sia-sia, sadar maupun sengaja. Contoh kecilnya, ya itu tadi, beli makanan mahal-mahal. Padahal belum tentu bergizi. Selain itu, lambung kita juga akan sama kenyangnya kok, jika diisi dengan makanan enak dan bergizi yang harganya lebih sesuai. Contoh lainnya, beli selembar baju merek A dengan harga sekian, padahal harga sekian itu bisa dibelikan baju merek B dua lembar. Atau mau contoh yang lebih ekstrim lagi, banyak kan kita temui beberapa dari kita yang suka gonta ganti HP. Baru sebulan dua bulan pakai, ada yang lebih anyar dan canggih, maka dijuallah yang lama dan dibelilah yang lebih anyar dan canggih itu. Hanya demi rasa bangga. Sementara masih banyak yang begitu kekurangan sampai-sampai berpeluh-peluh keringat membasahi tubuh demi satu koin yang dapat memberinya kelangsungan hidup.

********

Belajar bersikap zuhud. Mungkin berkali-kali kita dengar dari para Da’i, Ustadz, ataupun Guru Mengaji kita saat kecil. Hiduplah sederhana, jangan berlebih-lebihan, sesuaikan dengan kebutuhan bukan keinginan. Namun jangan pula mengartikan zuhud dengan sama sekali melepaskan diri dari segala kenikmatan dunia. Zuhud yang sejati yang sering diartikan para ulama adalah menikmati karunia Allah, namun pada saat yang sama juga berlepas dari keterikatan terhadap nikmat tersebut.

Disebutkan sebuah kisah di zaman Rasulullah, ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah SAW dan bertanya, ”Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku suatu perbuatan yang jika aku lakukan, maka aku akan dicintai oleh Allah dan juga oleh manusia.”

Rasulullah menjawab, ”Berlaku zuhud-lah kamu terhadap kenikmatan dunia niscaya kamu akan dicintai Allah, dan berlaku zuhud-lah kamu di tengah manusia niscaya kamu akan dicintai oleh mereka.”

Bersikap zuhud bukan berarti berdiam diri atau tidak berikhtiar mencari rezeki yang halal. Zuhud bukan sikap malas. Namun seperti yang disebutkan di atas tadi, zuhud adalah mendapatkan kenikmatan dunia tetapi tidak memalingkan dirinya dari ibadah kepada Allah. Tidak diperbudak dunia dan tetap berada di jalan yang diridhai Allah.

Setiap dari kita hendaknya mampu menanamkan zuhud dalam kehidupan bermasyarakat. Yaitu dengan menyikapi kenikmatan dunia searif mungkin dan menjalin hubungan yang harmonis dengan sesama manusia. Bersikap zuhud berarti juga belajar menghormati yang fakir sehingga tidak menimbulkan kecemburuan sosial. Karenanya lebih baik lagi sertailah sikap tersebut dengan sikap senang bersedekah. Insyaallah, negara ini akan menjadi lebih tentram bagi semua umat. Amien…

 

Baju itu Tanggal di Hadapan Tuhanmu August 14, 2007

Filed under: Hikmah — ayutsoe @ 9:33 am

 

ITULAH malam paling menyakitkan yang pernah kualami.Tapi akhirnya aku tahu bahwa ada perbedaan besar antara rasa sakit dengan penyakit. Penyakit itu destruksi terhadap hakekat hidup. Tapi sakit justru sanggup membawamu memasuki sebuah situasi sakral yang misterius. Ada semacam tetesan kebahagiaan yang diiming-imingkan oleh rasa sakit, oleh luka dan kepedihan. Aku yakin engkaupun tahu bahwa ternyata rasa sakit dan kepedihan sesungguhnya adalah kebahagiaan yang tidak menjumpai tempat persemayamannya di dalam jiwamu.

Sudrun menghardikku sepanjang malam, sebelum akhirnya ia mendadak lenyap entah ke mana tatkala fajar berakhir. la kemudian digantikan kehadirannya oleh cahaya matahari, yang pagi itu lain sama sekali dengan cahaya yang pernah kukenali sebelumnya, ketika kutatap dengan mataku dan kuhayati dengan batinku.
Aku merasa bukan aku. Aku merasa lahir kembali sebagai aku yang sama sekali bukan yang kemarin.
Aku pernah menjadi seorang Bupati dan aku menyangka bahwa aku adalah Bupati, sehingga ketika aku tak lagi menjabat sebagai Bupati aku merasa kehilangan diriku sendiri. Aku pernah menjadi seorang Menteri, di saat lain aku menjadi seorang Jendral dengan jabatan dan kewenangan besar. Aku juga pernah menjadi seorang bos besar dari sebuah perusahaan, kemudian menjadi pemimpin panutan beribu-ribu orang yang setiap kali ketemu setia mencium punggung tanganku.
Ketika kemudian aku berangkat tua, aku mulai tak bisa mengelak untuk mengerti bahwa sesungguhnya aku bukan bos besar, bukan penguasa dan bukan pemimpin. Dan akhirnya tatkala orang-orang mengakat kerandaku dan memasukkanku ke lubang kuburan yang begitu amat sempit dibandingkan yang pernah kubayangkan tentang kebesaran hidupku: aku sungguh-sungguh memahami bahwa yang dikuburkan ini bukanlah menteri, bukan bos besar, bukan pemimpin masyrarakat. Yang meringkuk di kuburan dan tak bisa mengelak dari tangan Mungkar dan Nakir ini adalah diri yang sama sekali lain, yang selama hidupku justru jarang kusapa dan kuperhatikan.
Pada saat itulah tumbuh kecerahan pikiran dan sekaligus penyesalan. Betapa si bupati, si menteri, si bos besar dan si pemimpin ummat, seharusnya sudah sejak awal kukuburkan sendiri; dan semestinya aku melawan habis-habisan apabila beribu-ribu orang itu mencoba menggali, menghidupkan, mengangkat di atas kepala mereka sambil menyanjung-nyanjung sesuatu yang telah kukuburkan itu.
Aku bukan bupati, karena yang disebut bupati itu hanyalah bajuku. Aku bukan menteri, sebab yang bernama menteri itu hanyalah nama dari tugasku. Aku bukan bos, bukan pemimpin, bukan kiai, bukan ulama, bukan budayawan dan bukan apa saja – karena semua itu sekedar inisial untuk menandai pekerjaan hidup sosialku. (“Kiai Sudrun Gugat”, Emha Ainun Nadjib, Grafiti Press, 1995)

 

Dan Setan pun Merasa Takut August 14, 2007

Filed under: Hikmah — ayutsoe @ 9:23 am

Ada seorang manusia yang bertemu dengan setan di waktu subuh. Entah bagaimana awalnya, akhirnya mereka berdua sepakat mengikat tali persahabatan. Ketika waktu subuh berakhir dan orang itu tidak mengerjakan shalat, maka setan pun sambil tersenyum bergumam, “Orang ini memang pantas menjadi sahabatku..!”Begitu juga ketika waktu dzuhur orang ini tidak mengerjakan shalat, setan tersenyum lebar sambil membatin, ” Rupanya inilah bakal teman sejatiku di akhirat nanti..!”

Ketika waktu ashar hampir habis tetapi temannya itu dilihatnya masih juga asik dengan kegiatannya, setan mulai terdiam……

Kemudian ketika datang waktunya magrib, temannya itu ternyata tidak shalat juga, maka setan nampak mulai gelisah, senyumnya sudah berubah menjadi kecut. Dari wajahnya nampak bahwa ia seolah-olah sedang mengingat-ngingat sesuatu.

Dan akhirnya ketika dilihatnya sahabatnya itu tidak juga mengerjakan shalat Isya, maka setan itu sangat panik. Ia rupanya tidak bisa menahan
diri lagi, dihampirinya sahabatnya yang manusia itu sambil berkata dengan penuh ketakutan, “Wahai sobat, aku terpaksa memutuskan persahabatan kita !”
Dengan keheranan manusia ini bertanya,”Kenapa engkau ingkar janji bukankah baru tadi pagi kita berjanji akan menjadi sahabat ?”.

“Aku takut !”, jawab setan dengan suara gemetar.

“Nenek moyangku saja yang dulu hanya sekali membangkang pada perintah-Nya, yaitu ketika menolak disuruh sujud pada Adam, telah dilaknat-Nya; apalagi engkau yang hari ini saja kusaksikan telah lima kali membangkang untuk bersujud pada-Nya. Tidak terbayangkan olehku bagaimana besarnya murka Allah kepadamu !”, kata setan sambil ngeloyor pergi.


Sunarsi, Sri SUNARSI1/at/NOSPAM.Mattel.com, – 26 November 2002
dikutip dari milis alhikmahonline/at/NOSPAM.smartgroups.com

 

Madu, Mangkuk dan Sehelai Rambut August 14, 2007

Filed under: Hikmah — ayutsoe @ 9:20 am

Sumber: Percikan Iman

Rasulullah SAW, dengan sahabat-sahabatnya Abakar r.a., Umar r.a., Utsman r.a., dan ‘Ali r.a., bertamu ke rumah Ali r.a. Di rumah Ali r.a. istrinya Fathimah r.ha. putri Rasulullah SAW menghidangkan untuk mereka madu yang diletakkan di dalam sebuah mangkuk yang cantik, dan ketika semangkuk madu itu dihidangkan, sehelai rambut terikut di dalam mangkuk itu.

Baginda Rasulullah SAW kemudian meminta kesemua sahabatnya untuk membuat suatu perbandingan terhadap ketiga benda tersebut (mangkuk yang cantik, madu, dan sehelai rambut).

Abubakar r.a. berkata,

iman itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, orang yang beriman itu lebih manis dari madu, dan mempertahankan iman itu lebih susah dari meniti sehelai rambut.

Umar r.a. berkata,

kerajaan itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, seorang raja itu lebih manis dari madu, dan memerintah dengan adil itu lebih sulit dari meniti sehelai rambut.

Utsman r.a. berkata,

ilmu itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, orang yang menuntut ilmu itu lebih manis dari madu, dan ber’amal dengan ilmu yang dimiliki itu lebih sulit dari meniti sehelai rambut.

‘Ali r.a. berkata,

tamu itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, menjamu tamu itu lebih manis dari madu, dan membuat tamu senang sampai kembali pulang ke rumanya adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut.

Fatimah r.ha. berkata,

seorang wanita itu lebih cantik dari sebuah mangkuk yang cantik, wanita yang ber-purdah itu lebih manis dari madu, dan mendapatkan seorang wanita yang tak pernah dilihat orang lain kecuali muhrimnya lebih sulit dari meniti sehelai rambut.

Rasulullah SAW berkata,

seorang yang mendapat taufiq untuk beramal adalah lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, beramal dengan amal yang baik itu lebih manis dari madu, dan berbuat amal dengan ikhlas adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut.

Malaikat Jibril AS berkata,

menegakkan pilar-pilar agama itu lebih cantik dari sebuah mangkuk yang cantik, menyerahkan diri; harta; dan waktu untuk usaha agama lebih manis dari madu, dan mempertahankan usaha agama sampai akhir hayat lebih sulit dari meniti sehelai rambut.

Allah SWT berfirman,

surga-Ku itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik itu, nikmat surga-Ku itu lebih manis dari madu, dan jalan menuju surga-Ku adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut.

Begitulah kalimat-kalimat indah yang diucapkan, sebagai pelajaran bagi umat.


 

19 Keistimewaan Wanita August 14, 2007

Filed under: Hikmah — ayutsoe @ 9:15 am

Sumber: Lali aku rek!

Berbahagialah wahai wanita shalehah. Sebab Rasulullah SAW bersabda, “Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah.” (HR. Muslim, Ahmad, dan An-Nasa’i). Disisi lain berhati-hatilah sebab Beliau SAW juga berpesan tentang fitnah terbesar dari kaum mu, “Tidak ada suatu fitnah (bencana) yang lebih besar bahayanya dan lebih bermaharajalela-selepas wafatku terhadap kaum lelaki selain daripada fitnah yang berpunca daripada kaum wanita.” (H.R. Bukhari, Muslim, Ahmad, at-Tirmidzi, An-Nasa’i dan Ibnu Majah).

1.        Do’a wanita lebih makbul daripada lelaki karena sifat penyayang yang lebih kuat daripada lelaki. Ketika ditanya kepada Rasulullah SAW akan hal tersebut, jawab baginda: “Ibu lebih penyayang daripada Bapak dan doa orang yang penyayang tidak akan sia-sia.”

2.       Wanita yang solehah itu lebih baik daripada 1000 lelaki yang saleh.

3.       Barang siapa yang menggembirakan anak perempuannya, derajatnya seperti orang yang senantiasa menangis karena takut Allah SWT dan orang yang takut Allah SWT akan diharamkan api neraka keatas tubuhnya.

4.       Barang siapa yang membawa hadiah (barang, makanan dari pasar kerumah) lalu diberikan kepada keluarganya, maka pahalanya seperti bersedakah. Hendaklah mendahulukan anak perempuan daripada anak lelaki. Maka barang siapa yang menyukai akan anak perempuan seolah-olah dia memerdekakan anak Nabi Ismail A.S

5.       Wanita yang tinggal bersama anak-anaknya, akan tinggal bersama aku (Rasulullah SAW) di dalam surga.

6.       Barang siapa yang mempunyai tiga anak perempuan atau tiga saudara perempuan atau dua saudara perempuan, lalu dia bersikap ihsan dalam pergaulan dengan mereka dengan penuh rasa takwa serta bertanggung jawab, maka baginya adalah surga.

7.       Dari Aisyah r.a. “Barang siapa yang diuji dengan sesuatu dari anak-anak perempuannya lalu dia berbuat baik kepada mereka, maka mereka akan menjadi penghalang baginya api neraka.”

8.       Surga itu di bawah telapak kaki ibu.

9.       Apabila memanggilmu dua orang ibu bapamu maka jawablah panggilan ibumu dahulu.

10.     Wanita yang taat berkhidmat kepada suaminya akan tertutup pintu-pintu neraka dan terbuka pintu-pintu surga. Masuklah dari manapun pintu yang dia kehendaki dengan tidak dihisab.

11.      Wanita yang taat pada suaminya, semua ikan-ikan di laut, burung di udara, malaikat di langit, matahari dan bulan, semuanya beristighfar baginya selama dia taat kepada suaminya dan rekannya (serta menjaga sholat dan puasanya).

12.     Aisyah r.a. berkata, “Aku bertanya pada rasulullah SAW, siapakah yang lebih besar haknya terhadap wanita?” Jawab baginda, “suaminya.” “Siapa pula berhak terhadap lelaki?” jawab Rasulullah SAW, “Ibunya.”

13.     Perempuan apabila sholat lima waktu, puasa di bulan Ramadhan, memelihara kehormatannya, serta taat pada suaminya, masuklah dia dari pintu surga mana saja yang dia kehendaki.

14.     Tiap perempuan yang menolong suaminya dalam urusan agama, maka Allah SWT memasukkan dia kedalam surga lebih dahulu daripada suaminya (10.000 tahun)

15.     Apabila seorang perempuan mengandung janin dalam rahimnya, maka beristighfarlah para malaikat untuknya. Allah SWT mencatatkan baginya setiap hari dengan 1000 kebaikan dan menghapuskan darinya 1000 kejahatan.

16.     Apabila seorang perempuan mulai sakit hendak bersalin, maka Allah SWT mencatatkan baginya pahala orang yang berjihad pada jalan Allah SWT

17.     Apabila seorang perempuan melahirkan anak, keluarlah ia dari dosa-dosa seperti keadaan ibunya melahirkan

18.     Apabila telah lahir (anak) lalu disusui, maka bagi ibu itu setiap satu tegukan dari susunya diberi satu kebajikan

19.     Apabila semalaman (ibu) tidak tidur dan memelihara anaknya yang sakit, maka Allah SWT memberinya pahala seperti memerdekakan 70 orang hamba dengan ikhlas untuk membela agama Allah SWT

 

Main Odong-Odong Yuk.. August 14, 2007

Filed under: Aqshaku Sayang — ayutsoe @ 7:00 am

Anak-anak balita di Jakarta pasti kenal banget sama odong-odong. Itu tuh, mainan yang digerakkan dengan tenaga kinetik-nya sang  abang odong2 sendiri. Deskripsinya gini, si abang mengayuh sepeda nah, mainan odong-odong yang berbentuk dudukan berupa mobil-mobilan, motor, dan hewan, yang sudah dihubungkan dengan rantai sepeda akan bergerak naik turun. Sambil diiringi lagu anak-anak, semua balita yang naik di situ mesti deh ketagihan..kekeke. Gitu juga Aqsha. Waktu pertama kenal odong2 belum setahun lagi umurnya. Seneng. Senyum menghiasi wajahnya. Lama-lama ga mau dipegangin, mau pegang stangnya sendiri :P Setelah bisa bicara, begitu sukanya dia naik odong-odong, setiap lewat pasti teriak..”aik..aik bu” sambil buru-buru minta gendong ke laci tempat simpan uang receh ibune..keke..tau aja ya. Pas nambah kosa katanya, setiap lewat pasti teriak..”aik..aik odong-dong”.

 

Till There Was You January 22, 2007

Filed under: Sukasuka — ayutsoe @ 5:54 am

There were bells on the hill
But I never heard them ringing,
No, I never heard them at all
Till there was you.

There were birds in the sky
But I never saw them winging
No, I never saw them at all
Till there was you.

And there was music,
And there were wonderful roses,
They tell me,
In sweet fragrant meadows of dawn, and dew.

There was love all around
But I never heard it singing
No, I never heard it at all
Till there was you!

 

Bobo, Teman Bermain dan Belajar January 22, 2007

Filed under: Nostalgia — ayutsoe @ 4:47 am

Semua pasti tau majalah mingguan anak-anak yang sudah sangat populer sejak taon 70-an dulu. Pertama kenal majalah ini pas aku masih belom masuk SD. Belom bisa baca juga. Cuma bolak-balik majalah Bobo-nya mas-mas sepupuku. Sejak itu jadi suka, n langsung minta dibeliin sama Bapak.

Kali pertama dibeliin Bapak, cover-nya gambar “Deni Manusia Ikan” (1983-an lah), wuih..seneng banget. Bisa baca dikit2, dieja..n dikarang sesuai gambar ;P Lucunya, bareng adikku, kita suka saling mendongeng. Pura-puranya aku jadi anak, adikku jadi ibu, berganti-ganti. Pokoknya sejak Bapak beliin Bobo, tiap hari senin sepulang Bapak dari kantor kita udah pada rebutan.

Rubrik yang paling aku suka adalah komik sisipan di tengah majalah. Mulai dari Komik-komik Majalah Nina, Pak Janggut, dll. Cerpen-cerpen nya aku juga suka sih. Paling suka ceritanya Ibu Widya Suwarna (terima kasih ibu, ceritanya sarat dengan pesan moral). Kalo ilustrator cerpen fave-ku, itu loh yang suka bikin paraf ‘Man’..sampai sekarang ga tau siapa nama aslinya..;)

Yang paling bikin bangga, berkat Bobo, aku bisa beramal kecil-kecilan. Ya, itu karena di antara temen-temen sekitar rumah cuma kita yang beruntung dibeliin majalah khusus anak-anak oleh orang tuanya. Tiap pulang sekolah, beranda rumah udah rame kedatangan tamu-tamu cilik yang rela duduk di lantai demi baca ‘Bobo’. Selain ‘Bobo’ ada lagi sih majalah lain, seperti Ananda n buku-buku terbitan Balai Pustaka. Sehari bisa lebih 5 orang temen yang singgah di teras rumahku. Berganti-ganti pula. Lumayan rame kan, soalnya gratis sih..;P
Tamu paling setia, temenku sebelah rumah, namanya Ondi..bayangin baru lepas SMP dia ga dateng ke rumah lagi khusus baca Bobo ;P Soalnya aku juga ga beli ‘Bobo’ lagi…hehehe..udah mulai gede kali ya. Bayangin aja udah sepuluh taon lebih kan! Itung aja berapa banyak yang kita punya. Dan semua tersimpan rapi. Sebagian ada sih yang akhirnya dibagiin ke saudara-saudara or disumbangkan. Terakhir pas aku udah kuliah, iseng-iseng pas lagi jalan-jalan ke pasar aku nawarin ke tukang loak kalo aku punya koleksi majalah banyak. Besoknya bener-bener datang, benernya aku ga rela sih kehilangan ‘Bobo-bobo’ku. Bapak tukang loak itu nawarin sekilo majalah seharga 300 rupiah…kekeke..gpp deh. Esoknya setelah beberapa minggu aku jalan-jalan ke pasar lagi, tuinggg…di emperan toko ada beberapa majalah bobo bekas yang dijual. Lihat lebih dekat…cling..ada trade mark kita “Ayu,Ony,dan Citra” tulisan Bapak di setiap majalah milik anak-anak-nya.

Sekarang di Usia-ku yang menginjak 30 tahun, pengen cepet-cepet beli ‘Bobo’ lagi nih buat Aqsha kecilku..:D Moga-moga isi ‘Bobo’ masih seperti dulu. Yang sarat dengan pengetahuan, teknologi dan hiburan yang berbobot. Dan bisa jadi ensiklopedi kecil yang bermanfaat.

 

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.